Sebelumnya, saya mengucapkan puji syukur kepada Allah SWT atas semua rahmat dan hidayahnya kepada kita semua. Tidak hanya itu, nikmat sehat dan nikat kesempatan juga wajib kita syukuri karena dengan nikmat itu semua maka tulisan essay ini dapat selesai. Dan terima kasih juga kepada Lombok Care Foundation yang telah memberikan dukungan penuh kepada Zifa.

Nazifa Fahira adalah putri yang dianugrahkan, diamanahkan dan dipercayakan kepada kami oleh Allah SWT. Zifa, panggilan sayang yang biasa kami lantunkan padanya lahir di Selong, Selasa Legi, 27 Mei 2014 (27 Rajab 1435 H) bertepatan dengan isra’ mi’raj. Hari yang sangat mulia bagi kami ummat muslim sedunia. Zifa lahir tepat pukul 10:37 wita dengan bobot 2,8 kg dan panjang 48 cm.
Zifa lahir dengan kondisi yang sangat sehat, teriak tangisannya adalah suatu kebahagiaan yang tak ternilai buat kami. Zifa lahir di saat saya sebagai seorang ayah sedang menempuh tugas belajar dari tempat kerja dengan tugas melanjutkan pendidikan ke jenjang S2 di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Hari demi hari kami lewati sebagai kelaurga kecil tanpa mau ada satu detikpun terlewati momen dalam menemani masa kecilnya. Tepat saat Zifa berusia 3 bulan, tepat juga masa meliburkan diri sebagai seorang mahasiswa sudah habis. Kamipun memutuskan untuk membawa Zifa ke Jogja agar tetap dalam pelukan kasih sayang orang tua. Saat awal Zifa meneriakkan tangisannya di Jogja semuanya terlihat normal. Zifa tumbuh menjadi anak yang sehat, gemuk, bahkan beberapa tetangga memanggilnya dengan julukan Tyson. Tangisannya keras hingga tendangannya pun mampu membuat ayah bundanya terkapar.
Tidak ada yang aneh di keluarga kami, sehingga pada suat hari, tepat di ulang tahun Zifa yang pertama, kami mulai mencurigai sesuatu hal. Di ulang tahunnya yang pertama, Zifa tak kunjung bisa merangkak, boro-boro merangkak, untuk bangun secara mandiri dari posisi tidur ke posisi duduk pun belum mampu. Karena kondisi ini akhirnya kami memutuskan untuk memeriksakan kondisi Zifa ke dokter. Awalnya kami memeriksakan Zifa ke Dokter anak yang ada di rumah sakit Panti Rapih Jogja. Dokter anak yang memeriksa Zifa bernama dr. Elisabeth Siti Herini, Sp.A atau kami biasa memanggilnya dr. Siti. Biasalah, bagaimana dokter memeriksa, karena Zifa belum bisa bicara, jadi yang ditanyakan adalah orang tua. Pemeriksaan dilakukan dengan interview orang tua, itu ya saya dan istri. Hasil pemeriksaan awal dokter belum pasti, sehingga kami diarahkan untuk dirujuk ke rehabilitasi medis. Di rehabilitasi medis Zifa ditangani oleh dr.Tiniwati,Sp.RM. Semoga dr. Siti dan dr.Tini tetap diberikan kesehatan untuk bisa selalu memberikan kebaikan bagi setiap orang, aamiin.
Dari hasil pemeriksaan di rehabilitasi medis, dr. Tini menyarankan kami agar Zifa mengikuti Okupasi Terapi (OT) dan Terapi Wicara (TW). Meskipun Zifa sudah mendapatkan penganan khusus melalui OT dan TW, Zifa juga harus tetap kontrol ke dr. Siti (dokter anak). Atas saran dari dr. Tini, kami diminta untuk menanyakan ke dr. Siti untuk memastikan keterlambatan dari segi fisik atau dari pusat (saraf). Alhasil, kosultasi dengan dr. Siti menyimpulkan bahwa keterlambatan Zifa berasal dari pusat (saraf). Diagnosa dokter menyatakan bahwa Zifa mengalami cerebral falsi. Shock, sedih, kecewa, menangis (di dalam kamar), meratap, berpikir andai begini dan andai begitu, ngelamun ndk jelas, semua saya borong untuk saya rasakan. Jika dingat-ingat, betapa serakahnya saya di situ. Beruntung saya memiliki seorang istri yang tegar, tabah, kuat, tetap mampu membuat semangat saya kembali memuncak, meskipun saya tau dia menyembunyikan sedih yang begitu dalam, karena kasih sayang seorang seorang ibu tentunya lebih dalam dari seorang ayah.
Meskipun dengan kondisi yang tidak stabil, saya tetap menemani Zifa untuk rutin terapi OT/TW dan juga periksa rutin ke dr. Siti. Jadwalnya pun sangat kebetulan cantik, Senin ke dr. Siti dan Kamis terapi OT/TW. Tidak ringan menjalani itu semua, penuh dengan keluh kesah, suka duka. Periksa di rumah sakit Panti Rapih yang tergolong salah satu Rumah Sakit terbaik di Jogja tentunya tidak mudah. Dengan kondisi saya yang sedang kuliah, kami mengandalkan BPJS untuk bisa tetap rutin melakukan upaya kebaikan untuk Zifa. Mungkin kalimat “melakukan upaya kebaikan” terdengar sedikit janggal di telinga masyarakat umum, namum cerebral falsi bukanlah suatu penyakit, dimana suatu penyakit dapat diobati dan dapat disembuhkan, sementara yang bisa dilakukan terhadap cerebral falsi adalah mengoptimalkan upaya dalam kemandirian seorang yang mengalami cerebral falsi. Jangan lupa, keajaiban pasti ada, dimana ada kemauan dan usaha, di situ ada jalan dan hasil. Tidak pernah ada usaha yang sia-sia. Jika orang tua tetap semangat, maka anak akan ikut semangat, tapi jika kita terlena dalam kesedihan, maka anak pun akan patah semangat. Itu adalah pesan yang terus melekat dari dr. Siti dan dr. Tini setiap kami konsultasi. Percayalah, pesan tersbut dapat memotivasi sekaligus menambah kesedihan kami sebagai orang tua. Namun, lambat laun kita akan memahami makna nasihat tersebut (artinya sekarang kami, maaf, tepatnya saya sudah menangkap makna utama dari pesan tersebut). Ups, hampir lupa, terima kasih kepada BPJS atas layanannya yang cukup membantu saat di Jogja.
Sampailah kita di awal tahun 2016, dimana pihak keluarga saya meminta untuk Zifa dibawa pulang. Artinya jika itu dari keluarga saya, maka pulangnya ke Lombok, karena keluarga istri saya berasal dari Medan, Sumatera Utara. Sepulang di rumah, apa yang saya khawatirkan terjadi. Di Jogja, kami sudah terbiasa dan sudah terpola untuk membagi waktu dalam hal menyelesaikan studi S2, bekerja part time sebagai freelancer untuk mengisi waktu luang (mencari tambahan pendapatan sebenarnya, 😀 ), bermain bersama Zifa hingga terapi dan periksa rutin Zifa. Tiba-tiba di rumah kami bukannya mendapat dukungan secara moril, justru kami mendapatkan judgement. Bagaimana tidak, mulai dari pencembutan di Bandara, kami sudah dicecar dengan beragam pertanyaan yang sangat memojokkan. Pertanyaan yang memaksa kami untuk harus meng”iya”kan semua dugaan dan tuduhan kejam lainnya. Selama hampir 30 Tahun saya tinggal di Lombok dan bersama keluarga, saya merasakan kehangatan kasih sayang yang tiada tara, namun baru kali ini saya merasakan keluarga sendiri seperti teroris dan rumah sendiri sebagai sebuah penjara. Mungkin kami tidak bisa menuliskan semua pertanyaan diutarakan kepada kami, tapi yang paling terngiang hingga saat ini adalah, “Zifa pernah jatuh ya?”, “Kebentur di kepala ya?”, “Kalian lalai ya jadi orang tua?”, come ooooooon, semua sudah kami jelaskan, bahkan hasil CT-Scan dari Panti Rapih dan hasil diagnosa meyakinkan bahwa tidak ada benturan di bagian kepala. Dan insyaAllah kami juga yakin Zifa tidak pernah jatuh sampai mendarat dengan kepalanya sendiri. Mungkin kejedot tembok pernah, ya pernah, ketika Zifa sedang tidur, kemudian guling, dan akhirnya kepala bagian pelipisnya kejedot tembok karena guling penghalangnya dipindah sendiri. Dan itupun terjadi setelah Zifa sudah didiagnosa cerebral falsi. Tentunya akan sangat muak dan kesal dengan berbagai cecaran, namun kami tetap memilih untuk bersabar sementara. Berusaha untuk menyadarkan kepada keluarga kami kondisi Zifa. Kami yakin, keluarga kami sangat sayang kepada Zifa, tapi percayalah, kasih sayang mereka tidak akan pernah sebanding dengan kasih sayang kami sebagai orang tua, kekecewaan mereka tidak sebanding dengan kekecawaan kami sebagai orang tua. Usaha yang mereka lakukan pun tidak akan pernah bisa sebanding dengan kami sebagai orang tua. Mungkin kasih sayang keluarga kepada kami disalurkan dengan seperti itu, tapi kami yakin lambat laun mereka akan paham.
Masih berkutat di rumah keluarga, tepatnya di Selong, Lombok Timur, saya mencutikan diri dari tugas belajar kembali untuk kedua kalinya. Emosi saya tentunya semakin terguncang. Terguncang karena lelah dengan omongan orang. Ratapan egois saya pun muncul kembali, dan bodohnya saya sebagai seorang ayah, ratapan saya membuat kebuntuan saya dalam berfikir dan mengambil keputusan, implikasinya adalah penganan untuk Zifa menjadi terhenti. Beberapa asumsi dari keluarga kami tentang kondisi Zifa mulai bermunculan. Asumsi klasik yang penuh mistik paling banyak menyelimuti pola pikir mereka. Sebuah pemikiran yang sangat tidak saya setujui namun saya tetap mengikuti untuk menghormati keluarga saya, terutama orang tua. Asumsi seperti apa itu? Asumsi yang pertama, Zifa diganggu oleh makhluk halus yang menghambatnya untuk bisa bicara. Asumsi kedua, makhluk halus lagi. Asumsi ketiga, kondisi Zifa adalah implikasi atas tindakan terdahulu kami sebagai orang tua yang telah menyakiti orang tua, dan beragam asumsi yang menurut mereka itu adalah diagnosa yang harus lebih hakiki dari pada diagnosa dokter. Luar biasa, kecerdasan para pakar-pakar yang mungkin hanya lulus sampai dengan wajar 9 tahun tersebut melebihi kemampuan seseorang yang sudah susah payah untuk menuntut ilmu hingga ke pendidikan tinggi. Yang menjadi permasalahan saya adalah tindakan atas diagnosa yang diberikan hampir tidak ada, diagnosa yang dihasilkan hanya akan menjadi sebuah fondasi baru untuk menguatkan tuduhan-tuduhan sebelumnya kami sebagai orang tua. Sempat kami bawa ke dokter anak lagi untuk mendapatkan rujukan ke rehabilitas medis, namun sangat sulit untuk mendapatkan fasilitas seperti itu di Lombok Timur. Parahnya lagi, dukungan keluarga untuk hal tersebut hampir tidak ada.
Bosan dan kesal dengan dukungan aneh dari keluarga, akhirnya saya dan istri memutuskan untuk membawa Zifa ke Lombok Barat, Gunung Sari. Di sana kami memiliki rumah yang sudah kami kredit dari awal tahun 2013 namun belum pernah kami tempati karena kami memilih untuk tinggal sementara di Jogja hingga tugas belajar saya selesai. Tidak semudah itu untuk pindah ke Lombok Barat, penuh perjuangan dari segi emosional. Namun, dengan kekeras-kepalaan kami, keluarga mengizinkan kami untuk pindah ke Lombok Barat. Di Lombok Barat, Zifa bisa lebih tenang, lebih stabil, kami yakin emosional Zifa juga pasti terguncang dengan penanganan dari “dokter ajaib” yang ada di Lombok Timur. Selain itu, kegelisahan Zifa mungkin saja karena perlakuan dari keluarga yang tidak lazim bagi Zifa. Kami berusaha memahami pola aktivitas dari Zifa, pola yang bisa membuatnya nyaman, namun masih dalam batas kewajaran. Di rumah Lombok Timur, perlakuan kami tersebut banyak mendapat bantahan dan penolakan. Salah satu contoh sederhananya adalah, saat Zifa baru bangun, dia terbiasa langsung mengkonsumsi sarapan ringan. Namun dari pihak keluarga meminta kami untuk langsung memandikan Zifa begitu bangun tidur. Kami paham dan tentunya sudah kami lakukan sebelumnya, tetapi dengan dimandikan ketika bangun tidur, mood Zifa akan menjadi kacau, terus menerus menangis, tidak mau makan, menggigit tangan sendiri, hingga berdampak susah tidur. Efek seperti itulah yang kami hindari, karena kesehatan Zifa juga harus menjadi hal utama yang kami perhatikan.
Di Sesela, tepatnya di mana rumah kami berpijak, emosi saya bisa kembali normal. Kemampuan otak untuk berfikir mulai berangsur segar kembali. Kami menjadwalkan kembali untuk terapi Zifa dan terpilihlah RS. Harapan Keluarga (HK). Di RS ini kami mendapatkan pelayanan yang kurang menurut kami. Tidak sebaik ketika kami kontrol di RS. Panti Rapih. Pelayanan yang paling kurang adalah dalam hal konsultasi dengan dokter, penanganan terapi kepada Zifa hingga birokrasi yang yang terlalu panjang. Namun dengan pertimbangan RSHK adalah yang terdekat dengan rumah, kami putuskan untuk tetap terapi di RSHK sementara. Karena Zifa sudah mendapatkan penanganan yang jelas, maka saya memutuskan untuk kembali ke Jogja menyelesaikan studi S2 saya. Tesis yang sudah hampir satu semester tidak tersentuh mulai saya baca-baca lagi. Batas beasiswa yang sudah offside menambah beban pikiran saat kembali ke Jogja. Setiap satu bulan sekali saya menyempatkan diri untuk pulang ke Lombok. Berat rasanya meninggalkan anak dan istri berdua di rumah. Kondisi dari segi materil tentunya menjadi semakin sulit, tapi paling tidak, kondisi moril dan spiritual sudah membaik. Dalam Al-Quran Surat Ath-Thalaq ayat 2 dan 3 yang artinya “Barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barang siapa yang bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupi (keperluan)-nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan bagi tiap-tiap sesuatu” . Keajaiban pasti ada, di saat kita benar-benar sangat membutuhkan dan kita meminta kepada Allah SWT, selalu ada jalan. Dengan keajaiban yang luar biasa inilah akhirnya saya bisa menyelesaikan studi S2 saya. Seperti apa detail dari keajaiban ini? Mungkin tidak perlu saya sampaikan di sini..
Selesainya studi S2 saya adalah sebuah kado terindah buat Zifa. Paling tidak saya sudah menetap di Lombok dan kumpul bersama keluarga. Lebaran Idul Fitri 1438 H (Tahun 2017) merupakan lebaran pertama kami berkumpul bersama keluarga kembali sejak saya kuliah di Jogja. Momen tersebut sedikit berbeda dari sebelumnya. Keluarga tetap ramai, namun jelas terlihat ada yang penerimaan yang sepenuhnya ikhlas dengan kondisi Zifa. Tapi perlahan-lahan, keluarga mulai menerima kondisi Zifa sebagai seorang anak yang istimewa. Dan itu yang sangat kami harapkan, karena dukungan keluarga adalah sebuah dukungan yang tidak ada duanya.
Di sela-sela silaturrahmi kami bersama keluarga, biasalah, kami bercengkrama dan bersenda gurau bak reuni akbar . Hingga ada suatu momen, dimana seorang kakak sepupu menanyakan perkembangan kondisi Zifa hingga saat ini. Dari bincang-bincang tersebut, kak Sri biasa kami memanggilnya, mengenalkan Lombok Care kepada kami. Beliau bercerita tentang Lombok Care yang sudah lama menangani kasus autis dan lain lain. Dari informasi tersebut kami menggali informasi melalui internet dan terlihat Lombok Care sangat menarik. Penasaran dengan Lombok Care akhirnya kami menyempatkan diri untuk melihat lokasi Lombok Care seusai lebaran ketupat, di hari Sabtu tepatnya, karena kebetulan jam kerja saya di hari tersebut agak sedikit longgar. Setibanya di lokasi, ternyta Lombok Care tutup. Kami sempat berfikir bahwa Lombok Care tidak beroperasi lagi. Namun kami melihat contact person di spanduk yang ada di tembok Lombok, kemudian kami hubungi. Ternyata Lombok Care buka dari hari Senin hingga Jumat.
Dua hari kemudian alias lusa, istri saya ke Lombok Care bersama Zifa dengan diantar Gojek. Agak susah untuk saya bisa mengantar di hari Senin, karena jadwal saya di hari Senin sangat padat. Berdasarkan cerita dari bunda Zifa, kami sangat antusias dengan pelayanan yang diberikan Lombok Care. Memikirkan ribetnya terapi di Rumah Sakit dan pelayanan yang kurang memuaskan, kami putuskan untuk menyekolahkan Zifa di Lombok Care. Selain itu dengan sekolah di Lombok Care, Zifa bisa mengenal sesama teman dengan keistimewaan masing-masing. Setelah divisit oleh pihak Lombok Care, Zifa mendapatkan jadwal terapi di hari Senin. Hari yang sangat bagus namun agak sangat berat buat saya karena hari tersebut sulit untuk saya bisa menemani Zifa terapi.
Selama rutinitas sekolah Zifa yang dilaksanakan sekali dalam seminggu, Zifa mendapat perkembangan yang cukup signifikan hingga saat ini. Paling tidak Zifa bisa duduk dengan stabil. Itu adalah sebuah capaian yang sangat luar biasa bagi kami. Mbk Ula selalu memberikan jawaban atas segala pertanyaan dan melatih kami sebagai orang tua untuk bisa mengoptimalkan kemandirian Zifa. Terima kasih yang tak terhingga buat mbk Ula atas kesabarannya menghadapi Zifa yang selalu menangis saat terapi. Semoga semua tugas yang mbk Ula jalankan tercatat sebagai ibadah oleh Allah SWT dan semoga mbk Ula juga tetap diberikan kesehatan agar tetap bisa memberikan kebaikan untuk kami semua, aamiin.
Saya juga sangat bersykur dan sangat berterima kasih kepada istri saya tercinta yang tidak lain adalah bunda dari Zifa. Keputusannya untuk bekerja di rumah ternyata memiliki sisi yang amat sangat positif buat zifa. Keputusan yang sangat bijak dan sangat luar biasa. Mungkin saya sebagai seorang ayah agak sulit untuk meninggalkan pekerjaan di saat jam terapi Zifa. Di sisi lain saya ingin selalu hadir, namun pekerjaan juga merupakan sumber pendapatan kami di keluarga. Upaya yang dapat saya lakukan adalah dengan pulang tepat waktu, mengambil kesempatan sebaik mungkin untuk bisa menemani Zifa dengan memanajemen pekerjaan di kantor. Selain itu saya berusaha untuk tidak mengerjakan pekerjaan kantor di rumah agar ikut serta membantu melatih kemandirian Zifa, karena bunda Zifa tentu akan sangat lelah seharian menemani dan melatih Zifa. Saya juga berusaha tetap menelpon ketika bekerja lembur.
Inilah curahan hati yang dapat kami tuliskan. Tulisan ini sudah kami pangkas sedemikian sehingga dapat tertata runtun secara kronologis. Harapan kami adalah Zifa bisa tumbuh seperti anak lainnya, bisa bermain seperti anak lainnya. Kami juga mendoakan kemajuan Lombok Care, semoga Lombok Care semakin berkembang, semakin baik dan tetap bisa menjadi wadah pembelajaran untuk Zifa dan untuk kami sebagai orang tua.
Terima kasih Lombok Care atas segala ilmu dan perhatian yang telah diberikan kepada kami, sukses terus untuk Lombok Care.

Advertisement